Selasa, 26 November 2013

Message (5): Tentang jangan congkak


“Pagi biru. Saat surya beranjak naik tertutupi mega atau tidak, maka kala tersebut tiap kita umumnya mulai bergeliat dengan segala rutinitas. Apapun fakta yang ada dalam keseharian tak pernah lepas dari ilmu dan kehendakNya. Tiap kita dengan segala keterbatasan tentunya akan bereaksi atas fakta dan kehendak tersebut. Banyak diantara kita yang memutus tautan antara fakta dengan kehendakNya saat fakta tersebut begitu tak diinginkan. Lalu memuja diri sendiri seolah paling tau diantara yang lain dan merasa layak serta berhak member penilaian terhadap segala sesuatu. Jangan, sekali-kali jangan seperti itu. Karena tiap kita hanya diperintah untuk mentadaburi saja olehNya agar menjadi bijak terhadap diri juga orang lain ditengah lautan kebodohan dan kelalaian kita dalam menjalani proses untuk tetap mempertahankan potensi kita yang salah satunya sebagai insan yang hanief (yang selalu condong terhadap kebaikan yang bersifat ilahiyah dan universal). Moga menjadi pembangkit potensi ketegaran dan kebahagiaan yang tak semu.”

“Hari ini kita terlalu sibuk menilai orang lain. Itulah cermin bahwa kita belum bernilai. Sementara yang bernilai adalah mereka yang sibuk memperbaiki dirinya karena yang belum faham akan menirunya. Inilah cermin maudzatul hasanah. Hari ini kita begitu bangga dengan pencapaian pribadi dan melupakan doa-doa untuk kita dari mereka yang kita anggap gagal dalam hidupnya. Inilah cermin ego yang menganggap seolah-olah Allah tak punya rencana dibalik tiap fakta dan data yang terjadi pada hambaNya. Hehe.. moga celoteh dalam lelah ini menjadi inspirasi dalam kefanaan hidup didunia.”

“Tiap orang hadir dengan kapasitasnya. Tiap orang hadir dengan kekurangan dan kelebihannya. Tiap orang akan berusaha dengan daya yang ia miliki. Pada hakikatnya tiap orang ingin menampilkan yang terbaik yang ia miliki satu sama lain. Tapi tiap orang jg tergoda dengan keinginan untuk sempurna tanpa cela. Padahal kesempurnaan itu adalah gabungan antara kelebihan masing-masing untuk mampu menerima kekurangan masing-masing.”

“Cuma kepedihan hidup yang akan mengajari tiap orang dan atau Cuma orang-orang berilmu serta tawadu saja yang ada dalam kehidupan kita yang akan bersama-sama meraih yang disebut bijak itu. Jika kedua hal tersebut tak pernah ada dalam hidup kita, maka terlalu jauh untuk menempunya. Itu pun kalo tak terlanjur tergerus dalam aliran materialistic dan gengsi akademis. Mengerikan.”

The end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar