"Tuhan mengingatkan pada manusia
bahwa musuhnya adalah dirinya sendiri dan keluarganya. Sehingga anak adalah
sesuatu yang diamanatkan bukan dimiliki. Dan anak harus lemah lembut pada
orangtuanya sekalipun titahnya tak sejalan dengan sang anak. Yang saling
memiliki hanyalah pribadi-pribadi yang dijalin dalam kelurusan firman meski
beragam dalam tingkat pemahaman karena kelurusan itulah yang akan saling
menguatkan kearah pemahaman yang mapan. Kata rosul, berbahagialah orang-orang
yang senantiasa menggenggam bara di tangan demi kelurusan dalam jalanNya meski
kadang dilecehkan istrinya, orangtuanya, mertuanya. Tetapi ia tetap bersabar
dan selalu berusaha menjalin kasih sayang dengan mereka.”
“Hidup itu pilihan. Pemiliknya tak bias lepas
dari norma-norma yang diyakininya. Setan tak akan membiarkan pilihan itu lurus.
Setiap iming-iming masa depan secara keduniaan dan waswas ketika merasa niscaya
dengan jalan Tuhan maka saat itu setan telah masuk kedalam dadanya. Dari sinilah
muncul keangkuhan manusia dan ketakutan yang tak pernah beralaskan, hanya alasan-alasan yang bermuatan nilai-nilai kabur yang senantiasa akan ia kemukakan. Tuhan
pun benci dan menantang orang yang seperti itu; “Faman sya a fayu’ minu waman
sya a fayakfur.” Hingga akhirnya kita senantiasa disadarkan oleh doa “robbana
dzolamna anfusana wa inlam tagfirlana lanakunana minalkhosirin.” Semoga kita
termasuk orang-orang yang disentil olehNya untuk selalu berproses lebih dekat
padaNya.”
“Hei dunia harus dikalahkan agar
tunduk perintah kebersihan jiwa, bukan jiwa yang harus tunduk pada dunia. Karena
ia akan menipu sampai kita sadar bahwa setan sedang menertawakan keterpurukan
jiwa saat kita merasa tak pantas berjalan lagi dimuka bumi, meski janji Dia
selalu ada asa selama ruh masih bersemayam dalam jasad.”
“Marah itu hanya pada orang-orang
cerdas dan bijak karena dapat ilmu nantinya. Kalo marah sama orang yang tak
mampu menguasai diri dan tak cukup referensi tentang apa-apa mengenai retorika
hidup maka akan buruk efeknya. Lebih baik Firaun/Ramses mesti marah terhadap
Musa tapi sesungguhnya hatinya begitu penuh sayang buat Musa meski anak pungut.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar