Selasa, 26 November 2013

Message (4): Tentang jiwa

"Tuhan mengingatkan pada manusia bahwa musuhnya adalah dirinya sendiri dan keluarganya. Sehingga anak adalah sesuatu yang diamanatkan bukan dimiliki. Dan anak harus lemah lembut pada orangtuanya sekalipun titahnya tak sejalan dengan sang anak. Yang saling memiliki hanyalah pribadi-pribadi yang dijalin dalam kelurusan firman meski beragam dalam tingkat pemahaman karena kelurusan itulah yang akan saling menguatkan kearah pemahaman yang mapan. Kata rosul, berbahagialah orang-orang yang senantiasa menggenggam bara di tangan demi kelurusan dalam jalanNya meski kadang dilecehkan istrinya, orangtuanya, mertuanya. Tetapi ia tetap bersabar dan selalu berusaha menjalin kasih sayang dengan mereka.”

“Hidup itu pilihan. Pemiliknya tak bias lepas dari norma-norma yang diyakininya. Setan tak akan membiarkan pilihan itu lurus. Setiap iming-iming masa depan secara keduniaan dan waswas ketika merasa niscaya dengan jalan Tuhan maka saat itu setan telah masuk kedalam dadanya. Dari sinilah muncul keangkuhan manusia dan ketakutan yang tak pernah beralaskan, hanya alasan-alasan yang bermuatan nilai-nilai kabur yang senantiasa akan ia kemukakan. Tuhan pun benci dan menantang orang yang seperti itu; “Faman sya a fayu’ minu waman sya a fayakfur.” Hingga akhirnya kita senantiasa disadarkan oleh doa “robbana dzolamna anfusana wa inlam tagfirlana lanakunana minalkhosirin.” Semoga kita termasuk orang-orang yang disentil olehNya untuk selalu berproses lebih dekat padaNya.”

“Hei dunia harus dikalahkan agar tunduk perintah kebersihan jiwa, bukan jiwa yang harus tunduk pada dunia. Karena ia akan menipu sampai kita sadar bahwa setan sedang menertawakan keterpurukan jiwa saat kita merasa tak pantas berjalan lagi dimuka bumi, meski janji Dia selalu ada asa selama ruh masih bersemayam dalam jasad.”

“Marah itu hanya pada orang-orang cerdas dan bijak karena dapat ilmu nantinya. Kalo marah sama orang yang tak mampu menguasai diri dan tak cukup referensi tentang apa-apa mengenai retorika hidup maka akan buruk efeknya. Lebih baik Firaun/Ramses mesti marah terhadap Musa tapi sesungguhnya hatinya begitu penuh sayang buat Musa meski anak pungut.”

“Kepekaan adalah anugerah ketiga setelah iman dan islam. Kebodohan adalah takdir kegelapan. Dan kebajikan ilmu adalah takdir yang diusahakan dengan susah payah oleh manusia dan terbebas dari penilaian prasangka sebelum irodahNya menyapa. Disinilah manusia diuji dengan kepahitan, sehingga terlalu banyak manusia yang lebih memilih sakralitas duniawi daripada mempertajam pengetahuan Tuhannya. Sementara usia bukan manusia yang mengendalikannya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar