"Tiap kasih wajib berusaha menjaga fitrah perasaan cinta kasihnya. Jika ia khawatir tak mampu menjaganya, maka ia harus lebih menyayangi dirinya agar terhindar dari hal-hal yang merugikan dirinya secara lahir maupun batin, baik dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Karena hal itu lebih baik dan lebih mengoptimalkan kondisi fisiknya maupun psikisnya hingga ia memahami betapa bermaknanya menjaga kefitrahan perasaan cinta tersebut. Dan hingga satu saat nanti ia mampu berbagi dengan siapapun dan menjadi orang yang selalu dirindukan kehadirannya karena keluasan pemahamannya dan kehalusan perasaannya serta kebijakan pikirnya meski mungkin ia harus jatuh bangun melalui segenap prosesnya (oleh mustad’afin).”
“Orang yang hidup penuh
kesejatian cinta hidupnya takan pernah sunyi. Orang yang tidak takut miskin
karena yakin ada dijalanNya maka takan pernah miskin. Bahagia itu ada dijiwa
bukan pada lahir yang sering menipu. Jika jiwa dipenuhi ilmuNya dan damaiNya
maka meskinpernah terpuruk, ia akan bangkit tegar untuk selalu gapai RidhoNya
yang belum sempat ia rasakan karena kealfaan sebelumnya. Nurani akan memahami.”
“Bukan kedekatan yang diperlukan
saat semuanya memiliki fungsi profesi masing-masing di tempat yang berbeda. Yang
dibutuhkan adalah ketegaran dan memaknai makna kasih yang sebenarnya.”
“Seberapa banyak orang berkata
cinta diantara kebutaan akan makna cinta dan pencipta cinta itu sendiri.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar