“Pagi biru. Saat surya beranjak naik tertutupi mega atau tidak, maka kala tersebut tiap kita umumnya mulai bergeliat dengan segala rutinitas. Apapun fakta yang ada dalam keseharian tak pernah lepas dari ilmu dan kehendakNya. Tiap kita dengan segala keterbatasan tentunya akan bereaksi atas fakta dan kehendak tersebut. Banyak diantara kita yang memutus tautan antara fakta dengan kehendakNya saat fakta tersebut begitu tak diinginkan. Lalu memuja diri sendiri seolah paling tau diantara yang lain dan merasa layak serta berhak member penilaian terhadap segala sesuatu. Jangan, sekali-kali jangan seperti itu. Karena tiap kita hanya diperintah untuk mentadaburi saja olehNya agar menjadi bijak terhadap diri juga orang lain ditengah lautan kebodohan dan kelalaian kita dalam menjalani proses untuk tetap mempertahankan potensi kita yang salah satunya sebagai insan yang hanief (yang selalu condong terhadap kebaikan yang bersifat ilahiyah dan universal). Moga menjadi pembangkit potensi ketegaran dan kebahagiaan yang tak semu.”
“Hari ini kita terlalu sibuk
menilai orang lain. Itulah cermin bahwa kita belum bernilai. Sementara yang
bernilai adalah mereka yang sibuk memperbaiki dirinya karena yang belum faham
akan menirunya. Inilah cermin maudzatul hasanah. Hari ini kita begitu bangga
dengan pencapaian pribadi dan melupakan doa-doa untuk kita dari mereka yang
kita anggap gagal dalam hidupnya. Inilah cermin ego yang menganggap seolah-olah
Allah tak punya rencana dibalik tiap fakta dan data yang terjadi pada hambaNya.
Hehe.. moga celoteh dalam lelah ini menjadi inspirasi dalam kefanaan hidup
didunia.”
“Tiap orang hadir dengan kapasitasnya. Tiap orang
hadir dengan kekurangan dan kelebihannya. Tiap orang akan berusaha dengan daya
yang ia miliki. Pada hakikatnya tiap orang ingin menampilkan yang terbaik yang
ia miliki satu sama lain. Tapi tiap orang jg tergoda dengan keinginan untuk
sempurna tanpa cela. Padahal kesempurnaan itu adalah gabungan antara kelebihan
masing-masing untuk mampu menerima kekurangan masing-masing.”
“Cuma kepedihan hidup yang akan
mengajari tiap orang dan atau Cuma orang-orang berilmu serta tawadu saja yang
ada dalam kehidupan kita yang akan bersama-sama meraih yang disebut bijak itu. Jika
kedua hal tersebut tak pernah ada dalam hidup kita, maka terlalu jauh untuk
menempunya. Itu pun kalo tak terlanjur tergerus dalam aliran materialistic dan
gengsi akademis. Mengerikan.”
The end