Minggu, 24 Januari 2016

Celoteh diri, Bukan Puisi

Mimpi,
Mampirlah kemari,
Ada hati yang bersembunyi.
Hinggaplah di atasnya,
Agar ia berjalan menuju luasnya lautan asa.
Teruslah menetap dalam tatapnya,
Agar ia terus percaya.
Percaya pada apa?
Ya pada bahwa,
Tuhan tidak pelit,
Ia maha mengabulkan segala pinta.

Rabu, 23 Desember 2015

Campakkan Aku Secercah Cahaya

Suasana sepi,
Mirip malam ramadhan,
Berselimbut ketenangan malam jumat,
Perut lagi ga banyak menuntut
Lantunan ayat bersahut-sahut
Tidak berada disatu sudut

Alam terbuka, berikan aku cahaya
Campakan ia dalam dada
Hanya dengan kehendak-nya
Kita hanya bisa berusaha
Maka teruslah yakinkan Ia
Tuhan Maha Mengetahui

Lepaskanlah diri dari keinginan duniawi
Waktunya kamu merefleksi apa yang ada dikulit ari-ari
Agar ia menyerap energinya
Mengenal tiap sisinya
Memaknai dan menghargai tiap keberadaannya

Kamis, 10 Desember 2015

RUMAH

'Pulang' yg ku rindu,
Hai para perantau,
Sudah kah kau 'pulang' ke rumahmu?
Ataukah kau masi sibuk 'berkelana' mencari hidup setara 'mereka' diluar sana?
Mendekat kemari!
Ku bisikkan sesuatu,
Jangan tutup mata hatimu!
Yg kau cari ada disini, dalam dirimu.
Yg akan kau perlukan hanya mendengarkan
Suara hatimu yg berbisik lirih itu.

Hai para perantau,
Ku ingatkan kau rasa 'pulang'
Orientasi & suasana hati berubah lebih tenang,
Lebih sunyi, suara hati lebih keras berbunyi.
Arahnya lebih membumi tak hanya condong ke materi.
Ia ikuti kata hati,
Mengikhlaskan diri,
Menerima semua ini.

Hai para perantau,
Jangan kau terbawa godaan diluar sana,
Godaannya semisal kau mengejar lintasan kereta api yang tak henti, tanpa kau sadari.
Tujuan2 yang gemerlap namun lekas lenyap memenuhi ruang mimpi,
Parahnya, itu menjadi acuan hati.
Materi... Materi...
Dan seambrug tektek bengek kedok gengsi,
tak henti kalian menarik hati untuk tunduk pada dunia ini.

Hai para perantau,
Tetaplah berusaha menjadi jiwa yg tenang
Agar kau benar2 memiliki 'rumah' untuk pulang.

Ya ayyatuhannafsil mutmainnah,
Irji'i ila robbiki rodiyatam mardiyah
Fadhuli fi 'ibadi, wadhuli jannati

Rabu, 28 Januari 2015

A thought sharing: Prayer implication

Menyadari makna apa yang kita ucapkan akan membantu meningkatkan makna dari perbuatan yang kita lakukan. Sama halnya dengan meningkatkan pemahaman akan bacaan dalam shalat. Untuk meningkatkan makna shalat kita, maka pembaharuan akan pemahaman shalat harus terus dilakukan. Ada makna baru yang muncul di benak terkait bacaan shalat saya beberapa waktu lalu. Yaitu, seluruh bacaan solat mengimplikasikan semangat positivisme, bebasnya dari pesimisme & dorongan untuk aktualisasi diri:

"Allahu akbar kabiro wal hamdu lillahi katsiro"
-->Allah maha besar yang besar -urusan terbesar & paling nyata yang harus qt sadari adalah tentang ke-besaran-an Nya- | dan baginya pujian yang amat banyak karena Dia adalah penyebab segala keindahan yg menimbulkan pujian dibenak manusia- segala kebaikan, keindahan yang kita rasakan sehingga timbul rasa pujian dari diri kita adalah Dia penyebabnya, Dia adalah sumber segala pujian, Dia pemilik segala keindahan itu. Jangan batasi ke maha indahan Allah dgn prasangka Dia tidak dapat menjadikan diri seseorang berperilaku terpuji, yermasuk diri sendiri.

"Subhana robbiyal 'adzimi wa bihamdih"
-->Allah itu maha yang paling hebat, maka Dia adalah sumber segala pendorong yg menjadikan sesuatu/seseorang menjadi hebat & dahsyat.  Jangan kira seseorang tdk bisa menjadi hebat, karena Dia maha penghebat, mampu menghebatkan sesuatu /seseorang. Dia yang menentukan & memberikan kehebatan, maka tidak benar jika kita meyakini keterbatasan. Keterbatasan adalah hal yang diyakini sehingga terjadi. Keep dreaming a moon, you'll be then at least in between the stars.

"Subhana robbiyal a'la wa bihamdih, attoyibaatu lillah"
-->Allah maha tinggi, maka jangan mau merasa diri berada dibawah kekuasaan seseorang / sesuatu selainNya. Jangan merasa terbatasi oleh ketinggian seseorang / sesuatu kadena tiada yang berhak ditinggikan melebihi ketinggianNya. Maka jangan membatasi diri oleh hal selaiNnya.

"Ashadu al laa ilaha illa allah wa ashadu anna muhammadan rosulullah, "
-->kalimat syahadat mengimplikasikan kesadaran akan entitas diri 'Aku'. Aku adalah kehadiran yang nyata dibuktikan dengan keterlibatan penting dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran 'aku', oleh karena itu, bermakna 'aku yang nyata', bukan yang tak memiliki peranan /makna di kehidupan bermasyarakat. 

"Allahumma solli 'alaa muhammad wa 'ala ali muhammad kama sollaita 'ala ibrohim wa 'ala ali ibrohim fil 'alamina innaka hamidummajiid"
-->karena bobot 'aku' setiap manusia berbeda-beda, bisa sedikit bisa banyak, maka yang mampu kita harapkan adalah memiliki kadar 'aku' sebaik yang dimiliki rasul terdahulu yang dihadirkan sebagai contoh yang memiliki ke-'aku'-an yang bisa dibilang sempurna. Pujian kepada ke dua model ini [muhammad & Ibrohim] mengimplikasikan harapan agar 'aku' yang kita miliki adalah dapat sebaik rasul sang model.

Dengan terus mengaktualkan makna shalat kita, semoga ia semakin menjadi obat ampuh buat diri sendiri. :-)

Minggu, 21 September 2014

Hi sword!




Inilah apa yang alam bisikkan kepada sang besi dan kerabatnya

“Bersabarlah, karena itu akan memberimu bentuk yang lebih tajam. Bersabarlah, karena panas dan tekanan ini akan menjadikanmu murni tanpa unsur selainmu.”

Sesungguhnya, pedang mendapatkan ketajaman dari kemampuannya berendah hati berubah namun tetap teguh atas segala tempaan yang keras lagi terus menerus. Pula atas kerelaannya menerima tempaan2 itu serta keridhoannya untuk taat dan percaya pada Sang Penempa.

Tentang sinar cinta yang terpancar dari hati


March, 13th 2014 note


Setiap orang diberi kemampuan untuk mencinta. Itu fitrah manusia. Ketika cinta itu banyak terbiaskan dengan ketidakcintaan, ia tetap akan mengenalinya dalam perilaku cinta dari orang lain. Hati yang memancarkan cinta dalam perilakunya akan mampu menghapuskan bias-bias yang menghalangi rasa cinta seseorang. Dan pada akhirnya sinar cinta itu akan memberi kekuatan pada hati yang terbiaskan sehingga ia dapat memancarkan sinar cintanya. Sebagian hati yang terbiaskan berusaha menghapuskan kabut-kabut hitam yang membingungkan lagi menutupi pandangan hati dan jiwanya. Rasa yang pasti adalah kebahagiaan dan nikmat tak terkira bagi hati yang mampu menyinarkan cintanya.

Selasa, 26 November 2013

Message (5): Tentang jangan congkak


“Pagi biru. Saat surya beranjak naik tertutupi mega atau tidak, maka kala tersebut tiap kita umumnya mulai bergeliat dengan segala rutinitas. Apapun fakta yang ada dalam keseharian tak pernah lepas dari ilmu dan kehendakNya. Tiap kita dengan segala keterbatasan tentunya akan bereaksi atas fakta dan kehendak tersebut. Banyak diantara kita yang memutus tautan antara fakta dengan kehendakNya saat fakta tersebut begitu tak diinginkan. Lalu memuja diri sendiri seolah paling tau diantara yang lain dan merasa layak serta berhak member penilaian terhadap segala sesuatu. Jangan, sekali-kali jangan seperti itu. Karena tiap kita hanya diperintah untuk mentadaburi saja olehNya agar menjadi bijak terhadap diri juga orang lain ditengah lautan kebodohan dan kelalaian kita dalam menjalani proses untuk tetap mempertahankan potensi kita yang salah satunya sebagai insan yang hanief (yang selalu condong terhadap kebaikan yang bersifat ilahiyah dan universal). Moga menjadi pembangkit potensi ketegaran dan kebahagiaan yang tak semu.”

“Hari ini kita terlalu sibuk menilai orang lain. Itulah cermin bahwa kita belum bernilai. Sementara yang bernilai adalah mereka yang sibuk memperbaiki dirinya karena yang belum faham akan menirunya. Inilah cermin maudzatul hasanah. Hari ini kita begitu bangga dengan pencapaian pribadi dan melupakan doa-doa untuk kita dari mereka yang kita anggap gagal dalam hidupnya. Inilah cermin ego yang menganggap seolah-olah Allah tak punya rencana dibalik tiap fakta dan data yang terjadi pada hambaNya. Hehe.. moga celoteh dalam lelah ini menjadi inspirasi dalam kefanaan hidup didunia.”

“Tiap orang hadir dengan kapasitasnya. Tiap orang hadir dengan kekurangan dan kelebihannya. Tiap orang akan berusaha dengan daya yang ia miliki. Pada hakikatnya tiap orang ingin menampilkan yang terbaik yang ia miliki satu sama lain. Tapi tiap orang jg tergoda dengan keinginan untuk sempurna tanpa cela. Padahal kesempurnaan itu adalah gabungan antara kelebihan masing-masing untuk mampu menerima kekurangan masing-masing.”

“Cuma kepedihan hidup yang akan mengajari tiap orang dan atau Cuma orang-orang berilmu serta tawadu saja yang ada dalam kehidupan kita yang akan bersama-sama meraih yang disebut bijak itu. Jika kedua hal tersebut tak pernah ada dalam hidup kita, maka terlalu jauh untuk menempunya. Itu pun kalo tak terlanjur tergerus dalam aliran materialistic dan gengsi akademis. Mengerikan.”

The end