Rabu, 28 Januari 2015

A thought sharing: Prayer implication

Menyadari makna apa yang kita ucapkan akan membantu meningkatkan makna dari perbuatan yang kita lakukan. Sama halnya dengan meningkatkan pemahaman akan bacaan dalam shalat. Untuk meningkatkan makna shalat kita, maka pembaharuan akan pemahaman shalat harus terus dilakukan. Ada makna baru yang muncul di benak terkait bacaan shalat saya beberapa waktu lalu. Yaitu, seluruh bacaan solat mengimplikasikan semangat positivisme, bebasnya dari pesimisme & dorongan untuk aktualisasi diri:

"Allahu akbar kabiro wal hamdu lillahi katsiro"
-->Allah maha besar yang besar -urusan terbesar & paling nyata yang harus qt sadari adalah tentang ke-besaran-an Nya- | dan baginya pujian yang amat banyak karena Dia adalah penyebab segala keindahan yg menimbulkan pujian dibenak manusia- segala kebaikan, keindahan yang kita rasakan sehingga timbul rasa pujian dari diri kita adalah Dia penyebabnya, Dia adalah sumber segala pujian, Dia pemilik segala keindahan itu. Jangan batasi ke maha indahan Allah dgn prasangka Dia tidak dapat menjadikan diri seseorang berperilaku terpuji, yermasuk diri sendiri.

"Subhana robbiyal 'adzimi wa bihamdih"
-->Allah itu maha yang paling hebat, maka Dia adalah sumber segala pendorong yg menjadikan sesuatu/seseorang menjadi hebat & dahsyat.  Jangan kira seseorang tdk bisa menjadi hebat, karena Dia maha penghebat, mampu menghebatkan sesuatu /seseorang. Dia yang menentukan & memberikan kehebatan, maka tidak benar jika kita meyakini keterbatasan. Keterbatasan adalah hal yang diyakini sehingga terjadi. Keep dreaming a moon, you'll be then at least in between the stars.

"Subhana robbiyal a'la wa bihamdih, attoyibaatu lillah"
-->Allah maha tinggi, maka jangan mau merasa diri berada dibawah kekuasaan seseorang / sesuatu selainNya. Jangan merasa terbatasi oleh ketinggian seseorang / sesuatu kadena tiada yang berhak ditinggikan melebihi ketinggianNya. Maka jangan membatasi diri oleh hal selaiNnya.

"Ashadu al laa ilaha illa allah wa ashadu anna muhammadan rosulullah, "
-->kalimat syahadat mengimplikasikan kesadaran akan entitas diri 'Aku'. Aku adalah kehadiran yang nyata dibuktikan dengan keterlibatan penting dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran 'aku', oleh karena itu, bermakna 'aku yang nyata', bukan yang tak memiliki peranan /makna di kehidupan bermasyarakat. 

"Allahumma solli 'alaa muhammad wa 'ala ali muhammad kama sollaita 'ala ibrohim wa 'ala ali ibrohim fil 'alamina innaka hamidummajiid"
-->karena bobot 'aku' setiap manusia berbeda-beda, bisa sedikit bisa banyak, maka yang mampu kita harapkan adalah memiliki kadar 'aku' sebaik yang dimiliki rasul terdahulu yang dihadirkan sebagai contoh yang memiliki ke-'aku'-an yang bisa dibilang sempurna. Pujian kepada ke dua model ini [muhammad & Ibrohim] mengimplikasikan harapan agar 'aku' yang kita miliki adalah dapat sebaik rasul sang model.

Dengan terus mengaktualkan makna shalat kita, semoga ia semakin menjadi obat ampuh buat diri sendiri. :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar