penat melingkupiku 2 bulan ini. betapa tidak, aku selalu melakukan pekerjaan yang sama, dituntut memberi output dengan sangat sedikit sekali input,, jumat 29 Maret 2013 kemarin akhirnya aku bisa menyegarkan moodku. pergi ke Garut bersama teman-teman. and this is it, when I was there
Minggu, 31 Maret 2013
yang sedang pahit
Kutulis kisahmu
Oh begitu,,
kita merasakan kepahitan,
darinya, kita memahami kepedihan orang lain,
yang mungkin lebih pahit dari yang kita rasakan,
Lalu sedikit2 kita berbagi,
saling melepaskan beban,
beban yang, menurutku kini ibarat asahan,,
aku pun pernah berada di sudut itu kawan
bukan kuasaku memberi setitik pun terang,
ku hanya ingin katakkan,
bahwa kamu tak sendirian
ku hanya bisa berpesan
jangan lepas tali kesabaran
yakinlah, hari tidak akan gelap semua
semoga kita selalu dapat memegang tali kesabaran
Kamis, 07 Maret 2013
Ini Family
betapapun lelah ku mengarungi diri & bumi,, selalu Allah berikan kesejukan hati dari saudara sehati ^^
Tuhanmu sekali-kali tidak meninggalkanmu & tidak melupakanmu
itu janjiNya
bimbing kami selalu dijalanMu,, #huhuuu
Tuhanmu sekali-kali tidak meninggalkanmu & tidak melupakanmu
itu janjiNya
bimbing kami selalu dijalanMu,, #huhuuu
Kamis, 21 Februari 2013
banyak terimakasih,,
Ingin ku beri tanda terimakasih,
Padamu, karena,,
Kau meyakinkan ku,
Bahwa ada bintang jauh di atas sana,
Bahwa ada bulan yg selalu mengitari bumi,
Bahwa ada pula sejuk dalam teriknya hari,,
Kau mengingatkan ku,
Bahwa pekatnya malam adalah juga tanda datangnya fajar,
Bahwa sinar terang tak hanya dalam siang,
Bahwa angin selalu akan mengusir sesak,,
Kau membuatku kembali,
Menemukan mutiara pada dalamnya laut,
Menata belantara hati,,
Kadang tak perlu ku harus mengerti,
Untuk berjalan di atas jalan-Nya..
Selasa, 05 Februari 2013
Sakralnya ‘akad’
Bulan ini banyak sekali kawan yang melangsungkan pernikahan. Saya hanya hadir dibeberapa karena berbenturan dengan urusan lain. Saya sangat suka momen seorang pria mengucap janji dan penerimaan seorang wanita yang diserahkan langsung oleh ayahnya. Itu merupakan hal sakral yang selalu membuat hati saya terhenyak. Betapa satu pernyataan dapat merubah perihal terlarang menjadi berkah. Pada tahun-tahun sebelumnya saya selalu memaksakan diri menghadiri akad nikah kawan saya. Hanya untuk kembali menyaksikan dan merasakan suasana khidmat pengucapan janji. Ketika pengucapan akad, saya merasakan banyak malaikat yang meliputi ruangan masjid dengan balutan gaun putih menabur butir kebahagiaan pada siapa saja yang hadir disana. Dan saya seperti anak kecil norak girang sendiri sambil loncat-loncat tinggi (untung cuma dalam hati). Jadi buat saya, proses akad itulah pesta bahagia sesungguhnya, resepsi hiburan dan salaman itu mah sebagai bonusnya saja.
Saya merasakan perasaan seperti ini sejak masih kecil sekali. Bahkan pernah saya berfikir bahwa akad itu serupa mantra sihir, seperti upacara meminta anak. Kalau akadnya tidak khidmat, maka kedua mempelai tidak akan diberi keturunan. Pendeknya, saya pikir akad itu ritual pembuatan anak. Prosesi adat meneruskan keturunan. Jadi waktu saya bertambah usia, saya heran mengetahui ada wanita hamil tanpa menikah. Itu untuk kesekian kalinya teori kecil saya terbantahkan.
Di hari itu, wajah mempelai wanita selalu terlihat lebih cerah dari biasanya. Sang pria terlihat gagah karena menyadari adanya amanah. Indahnya cara hidup manusia. Akan lebih indah lagi jika kedua mempelai didasari cinta dan mengenal Sang Pencipta cinta.
Saya tidak sedang galau ingin menikah. Bukan pula iri melihat kawan yang sudah melangsungkan pernikahan. Toh menikah itu bukan seperti kuliah, “usia sekian belum menikah, hidup anda gagal.” Tidak demikian. Saya lebih menganggapnya seperti ibadah haji, datang karena panggilan hati. Kita bertemu seseorang, kita yakin ingin dan punya kemampuan juga kesiapan diri mengikuti perjalanannya, perjalanannya pun harus jelas, terarah, dan kita sudah pegang mapnya, ato kalo ngga, mampu pasrah dengan keyakinan kepadaNya, jadi deh. Tak usah terburu-buru. Kalau pun sudah mau, minta saja sama Sang Penghadir cinta untuk diberi kesiapan segalanya. semoga bahagia kawan2 ku sayang..
Saya merasakan perasaan seperti ini sejak masih kecil sekali. Bahkan pernah saya berfikir bahwa akad itu serupa mantra sihir, seperti upacara meminta anak. Kalau akadnya tidak khidmat, maka kedua mempelai tidak akan diberi keturunan. Pendeknya, saya pikir akad itu ritual pembuatan anak. Prosesi adat meneruskan keturunan. Jadi waktu saya bertambah usia, saya heran mengetahui ada wanita hamil tanpa menikah. Itu untuk kesekian kalinya teori kecil saya terbantahkan.
Di hari itu, wajah mempelai wanita selalu terlihat lebih cerah dari biasanya. Sang pria terlihat gagah karena menyadari adanya amanah. Indahnya cara hidup manusia. Akan lebih indah lagi jika kedua mempelai didasari cinta dan mengenal Sang Pencipta cinta.
Saya tidak sedang galau ingin menikah. Bukan pula iri melihat kawan yang sudah melangsungkan pernikahan. Toh menikah itu bukan seperti kuliah, “usia sekian belum menikah, hidup anda gagal.” Tidak demikian. Saya lebih menganggapnya seperti ibadah haji, datang karena panggilan hati. Kita bertemu seseorang, kita yakin ingin dan punya kemampuan juga kesiapan diri mengikuti perjalanannya, perjalanannya pun harus jelas, terarah, dan kita sudah pegang mapnya, ato kalo ngga, mampu pasrah dengan keyakinan kepadaNya, jadi deh. Tak usah terburu-buru. Kalau pun sudah mau, minta saja sama Sang Penghadir cinta untuk diberi kesiapan segalanya. semoga bahagia kawan2 ku sayang..
Sabtu, 26 Januari 2013
be..!
Wahai pencipta air, api, angin dan tanah yang Maha Pengampun
Aku ingin seperti tanah dalam tenangnya,
Tak bergeming atau panik berhamburan,
Tak pernah lupa diri dan tetap terhampar di atas bumi.
Aku ingin seperti api dalam kobarnya menghanguskan ketidak
jelasan,
Gigih membakar sampai ke akar.
Kemudian kembali tenang ketika semua pengganggu telah usang.
Aku ingin seperti air yang selalu tunduk tak pernah pongah,
Dalam keadaan apapun ia selalu mencari dasar terendah,
Kesegarannya memberi harapan kehidupan pada setiap makhluk
dan tanah.
Aku ingin seperti angin dalam hembusannya yg tak henti
menghampiri tekanan yang lebih rendah,
Selalu ingin menyeimbangkan segala tekanan demi memberikan kesamaan
tekanan udara disegala ruang dan waktu.
Mari merinci
Kehidupan kita adalah yang apa yang dibentuk oleh kita dan
orang-orang disekitar kita. Dan orang-orang terdekat adalah mereka yang kita
percaya untuk ikut berperan mengisi kuning biru cerita hidup kita. Kebahagiaan
adalah apa yang terbentuk antara kita dan orang-orang disekitar kita. Maka kebahagiaan
adalah bentuk yang terlahir dari kepercayaan itu. Sedangkan kekecewaan yang
timbul adalah akibat dari ketidak tepatan menggunakan kepercayaan, atau bisa
jadi karena kita salah memberi kepercayaan pada seseorang, walau terkadang beberapa
orang yg berperan dalam hidup kita ada yg sudah ditetapkan.
Apapun ceritanya, kita adalah diri yang memberi kepercayaan
yang tak lebih dari apa yang kita berikan pada diri dan hati kita sendiri. Apapun
peran yang perlu dimainkan orang lain dalam hidup kita, tak mengubah tanggung
jawab kita dalam menentukan langkah diri, dengan tak henti memohon petunjuk
pada Sang Ilahi.
Langganan:
Postingan (Atom)




