Saya merasakan perasaan seperti ini sejak masih kecil sekali. Bahkan pernah saya berfikir bahwa akad itu serupa mantra sihir, seperti upacara meminta anak. Kalau akadnya tidak khidmat, maka kedua mempelai tidak akan diberi keturunan. Pendeknya, saya pikir akad itu ritual pembuatan anak. Prosesi adat meneruskan keturunan. Jadi waktu saya bertambah usia, saya heran mengetahui ada wanita hamil tanpa menikah. Itu untuk kesekian kalinya teori kecil saya terbantahkan.
Di hari itu, wajah mempelai wanita selalu terlihat lebih cerah dari biasanya. Sang pria terlihat gagah karena menyadari adanya amanah. Indahnya cara hidup manusia. Akan lebih indah lagi jika kedua mempelai didasari cinta dan mengenal Sang Pencipta cinta.
Saya tidak sedang galau ingin menikah. Bukan pula iri melihat kawan yang sudah melangsungkan pernikahan. Toh menikah itu bukan seperti kuliah, “usia sekian belum menikah, hidup anda gagal.” Tidak demikian. Saya lebih menganggapnya seperti ibadah haji, datang karena panggilan hati. Kita bertemu seseorang, kita yakin ingin dan punya kemampuan juga kesiapan diri mengikuti perjalanannya, perjalanannya pun harus jelas, terarah, dan kita sudah pegang mapnya, ato kalo ngga, mampu pasrah dengan keyakinan kepadaNya, jadi deh. Tak usah terburu-buru. Kalau pun sudah mau, minta saja sama Sang Penghadir cinta untuk diberi kesiapan segalanya. semoga bahagia kawan2 ku sayang..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar