Rabu, 23 Desember 2015

Campakkan Aku Secercah Cahaya

Suasana sepi,
Mirip malam ramadhan,
Berselimbut ketenangan malam jumat,
Perut lagi ga banyak menuntut
Lantunan ayat bersahut-sahut
Tidak berada disatu sudut

Alam terbuka, berikan aku cahaya
Campakan ia dalam dada
Hanya dengan kehendak-nya
Kita hanya bisa berusaha
Maka teruslah yakinkan Ia
Tuhan Maha Mengetahui

Lepaskanlah diri dari keinginan duniawi
Waktunya kamu merefleksi apa yang ada dikulit ari-ari
Agar ia menyerap energinya
Mengenal tiap sisinya
Memaknai dan menghargai tiap keberadaannya

Kamis, 10 Desember 2015

RUMAH

'Pulang' yg ku rindu,
Hai para perantau,
Sudah kah kau 'pulang' ke rumahmu?
Ataukah kau masi sibuk 'berkelana' mencari hidup setara 'mereka' diluar sana?
Mendekat kemari!
Ku bisikkan sesuatu,
Jangan tutup mata hatimu!
Yg kau cari ada disini, dalam dirimu.
Yg akan kau perlukan hanya mendengarkan
Suara hatimu yg berbisik lirih itu.

Hai para perantau,
Ku ingatkan kau rasa 'pulang'
Orientasi & suasana hati berubah lebih tenang,
Lebih sunyi, suara hati lebih keras berbunyi.
Arahnya lebih membumi tak hanya condong ke materi.
Ia ikuti kata hati,
Mengikhlaskan diri,
Menerima semua ini.

Hai para perantau,
Jangan kau terbawa godaan diluar sana,
Godaannya semisal kau mengejar lintasan kereta api yang tak henti, tanpa kau sadari.
Tujuan2 yang gemerlap namun lekas lenyap memenuhi ruang mimpi,
Parahnya, itu menjadi acuan hati.
Materi... Materi...
Dan seambrug tektek bengek kedok gengsi,
tak henti kalian menarik hati untuk tunduk pada dunia ini.

Hai para perantau,
Tetaplah berusaha menjadi jiwa yg tenang
Agar kau benar2 memiliki 'rumah' untuk pulang.

Ya ayyatuhannafsil mutmainnah,
Irji'i ila robbiki rodiyatam mardiyah
Fadhuli fi 'ibadi, wadhuli jannati

Rabu, 28 Januari 2015

A thought sharing: Prayer implication

Menyadari makna apa yang kita ucapkan akan membantu meningkatkan makna dari perbuatan yang kita lakukan. Sama halnya dengan meningkatkan pemahaman akan bacaan dalam shalat. Untuk meningkatkan makna shalat kita, maka pembaharuan akan pemahaman shalat harus terus dilakukan. Ada makna baru yang muncul di benak terkait bacaan shalat saya beberapa waktu lalu. Yaitu, seluruh bacaan solat mengimplikasikan semangat positivisme, bebasnya dari pesimisme & dorongan untuk aktualisasi diri:

"Allahu akbar kabiro wal hamdu lillahi katsiro"
-->Allah maha besar yang besar -urusan terbesar & paling nyata yang harus qt sadari adalah tentang ke-besaran-an Nya- | dan baginya pujian yang amat banyak karena Dia adalah penyebab segala keindahan yg menimbulkan pujian dibenak manusia- segala kebaikan, keindahan yang kita rasakan sehingga timbul rasa pujian dari diri kita adalah Dia penyebabnya, Dia adalah sumber segala pujian, Dia pemilik segala keindahan itu. Jangan batasi ke maha indahan Allah dgn prasangka Dia tidak dapat menjadikan diri seseorang berperilaku terpuji, yermasuk diri sendiri.

"Subhana robbiyal 'adzimi wa bihamdih"
-->Allah itu maha yang paling hebat, maka Dia adalah sumber segala pendorong yg menjadikan sesuatu/seseorang menjadi hebat & dahsyat.  Jangan kira seseorang tdk bisa menjadi hebat, karena Dia maha penghebat, mampu menghebatkan sesuatu /seseorang. Dia yang menentukan & memberikan kehebatan, maka tidak benar jika kita meyakini keterbatasan. Keterbatasan adalah hal yang diyakini sehingga terjadi. Keep dreaming a moon, you'll be then at least in between the stars.

"Subhana robbiyal a'la wa bihamdih, attoyibaatu lillah"
-->Allah maha tinggi, maka jangan mau merasa diri berada dibawah kekuasaan seseorang / sesuatu selainNya. Jangan merasa terbatasi oleh ketinggian seseorang / sesuatu kadena tiada yang berhak ditinggikan melebihi ketinggianNya. Maka jangan membatasi diri oleh hal selaiNnya.

"Ashadu al laa ilaha illa allah wa ashadu anna muhammadan rosulullah, "
-->kalimat syahadat mengimplikasikan kesadaran akan entitas diri 'Aku'. Aku adalah kehadiran yang nyata dibuktikan dengan keterlibatan penting dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran 'aku', oleh karena itu, bermakna 'aku yang nyata', bukan yang tak memiliki peranan /makna di kehidupan bermasyarakat. 

"Allahumma solli 'alaa muhammad wa 'ala ali muhammad kama sollaita 'ala ibrohim wa 'ala ali ibrohim fil 'alamina innaka hamidummajiid"
-->karena bobot 'aku' setiap manusia berbeda-beda, bisa sedikit bisa banyak, maka yang mampu kita harapkan adalah memiliki kadar 'aku' sebaik yang dimiliki rasul terdahulu yang dihadirkan sebagai contoh yang memiliki ke-'aku'-an yang bisa dibilang sempurna. Pujian kepada ke dua model ini [muhammad & Ibrohim] mengimplikasikan harapan agar 'aku' yang kita miliki adalah dapat sebaik rasul sang model.

Dengan terus mengaktualkan makna shalat kita, semoga ia semakin menjadi obat ampuh buat diri sendiri. :-)