Kamis, 21 Februari 2013

banyak terimakasih,,


Ingin ku beri tanda terimakasih,
Padamu, karena,,

Kau meyakinkan ku,
Bahwa ada bintang jauh di atas sana,
Bahwa ada bulan yg selalu mengitari bumi,
Bahwa ada pula sejuk dalam teriknya hari,,

Kau mengingatkan ku,
Bahwa pekatnya malam adalah juga tanda datangnya fajar,
Bahwa sinar terang tak hanya dalam siang,
Bahwa angin selalu akan mengusir sesak,,

Kau membuatku kembali,
Menemukan mutiara pada dalamnya laut,
Menata belantara hati,,

Kadang tak perlu ku harus mengerti,
Untuk berjalan di atas jalan-Nya..

Selasa, 05 Februari 2013

Sakralnya ‘akad’

Bulan ini banyak sekali kawan yang melangsungkan pernikahan. Saya hanya hadir dibeberapa karena berbenturan dengan urusan lain. Saya sangat suka momen seorang pria mengucap janji dan penerimaan seorang wanita yang diserahkan langsung oleh ayahnya. Itu merupakan hal sakral yang selalu membuat hati saya terhenyak. Betapa satu pernyataan dapat merubah perihal terlarang menjadi berkah. Pada tahun-tahun sebelumnya saya selalu memaksakan diri menghadiri akad nikah kawan saya. Hanya untuk kembali menyaksikan dan merasakan suasana khidmat pengucapan janji. Ketika pengucapan akad, saya merasakan banyak malaikat yang meliputi ruangan masjid dengan balutan gaun putih menabur butir kebahagiaan pada siapa saja yang hadir disana. Dan saya seperti anak kecil norak girang sendiri sambil loncat-loncat tinggi (untung cuma dalam hati). Jadi buat saya, proses akad itulah pesta bahagia sesungguhnya, resepsi hiburan dan salaman  itu mah sebagai bonusnya saja.

Saya merasakan perasaan seperti ini sejak masih kecil sekali. Bahkan pernah saya berfikir bahwa akad itu serupa mantra sihir, seperti upacara meminta anak. Kalau akadnya tidak khidmat, maka kedua mempelai tidak akan diberi keturunan. Pendeknya, saya pikir akad itu ritual pembuatan anak. Prosesi adat meneruskan keturunan. Jadi waktu saya bertambah usia, saya heran mengetahui ada wanita hamil tanpa menikah. Itu untuk kesekian kalinya teori kecil saya terbantahkan.

Di hari itu, wajah mempelai wanita selalu terlihat lebih cerah dari biasanya. Sang pria terlihat gagah karena menyadari adanya amanah. Indahnya cara hidup manusia. Akan lebih indah lagi jika kedua mempelai didasari cinta dan mengenal Sang Pencipta cinta.

Saya tidak sedang galau ingin menikah. Bukan pula iri melihat kawan yang sudah melangsungkan pernikahan. Toh menikah itu bukan seperti kuliah, “usia sekian belum menikah, hidup anda gagal.” Tidak demikian. Saya lebih menganggapnya seperti ibadah haji, datang karena panggilan hati. Kita bertemu seseorang, kita yakin ingin dan punya kemampuan juga kesiapan diri mengikuti perjalanannya, perjalanannya pun harus jelas, terarah, dan kita sudah pegang mapnya, ato kalo ngga, mampu pasrah dengan keyakinan kepadaNya, jadi deh. Tak usah terburu-buru. Kalau pun sudah mau, minta saja sama Sang Penghadir cinta untuk diberi kesiapan segalanya. semoga bahagia kawan2 ku sayang..